10 Oktober 2016 | Reza - Redaksi | Access Control

Inovasi Dua Mahasiswi UI, Manfaatkan Mobilitas Halte TransJakarta Sebagai Sumber Energi

Foto : Nabila Astari tengah Menjelaskan Konsep Droplock Turnstile Gate

Anak muda Indonesia kembali mengharumkan nama bangsa di kancah dunia. Kali ini, Indonesia sukses meraih juara kedua Grand Final Kompetisi Schneider Go Green in the City 2016 (GGITC) di Paris, Prancis baru-baru ini. Adalah tim Scarf yang beranggotakan Nabila Astari dan Stephanie Rawi, dua mahasiswi Universitas Indonesia menjadi pemenang kedua kompetisi tingkat global dengan mengusung konsep “Droplock Turnstile Gate.”

Human Resources Director Schneider Electric Indonesia, Nita Herawati, menjelaskan Tim Scarf memfokuskan konsepnya pada peluang efisiensi energi yang dapat dicapai dengan memanfaatkan mobilitas masyarakat yang setiap hari menggunakan TransJakarta. Dengan 45 rute yang tersedia, setiap harinya TransJakarta mengangkut kurang lebih 330.000 penumpang menggunakan 669 armada bus dan 227 halte yang ada di sepanjang koridor. Setiap harinya, 330.000 penumpang ini melewati dan menggerakkan 681 buah pintu putar tiga kaki atau droplock turnstile gate, di mana masing-masing halte rata-rata memiliki tiga buah gate.

Pergerakan dari setiap orang yang menggunakan kartu akses dan melewati gate akan mengaktifkan generator khusus yang ada di dalam gate dan menghasilkan energi listrik. Pergerakan satu orang penumpang setiap melewati gate dapat menghasilkan 0,03 kW di mana setiap jam rata-rata ada 30 orang yang memasuki halte. Dengan jam operasional 17 jam per hari, maka setiap harinya sebuah halte TransJakarta dapat menghasilkan 15,3 kWh listrik, yang dapat dipergunakan untuk menghidupi perangkat card reader pada gate, menerangi halte, ataupun disimpan di dalam baterai untuk menghidupi charging spot atau televisi.

“Kunci kemenangan Tim Scarf terletak pada orisinalitas ide, pemenuhan aspek energi ramah lingkungan serta kesiapan alat ini untuk diimplementasikan. Tidak hanya bisa dipakai di halte Transjakarta, area layanan publik lainnya yang menggunakan pintu putar tiga kaki seperti stasiun dan tempat wisata juga dapat menggunakan solusi ini. Semoga inovasi berupa energi terbarukan ini dapat segera diimplementasikan untuk menunjang terciptanya Jakarta Smart City,” jelasnya.

Lebih jauh dia menuturkan, pada tingkat grand final ini tim Anemoi dari Jerman berhasil meraih Juara Pertama, disusul dengan Tim Scarf di posisi kedua dan tim Holoenergy dari Brasil di posisi ketiga. “Kemenangan ini semakin mengukuhkan kenyataan bahwa generasi muda Indonesia memiliki kemampuan untuk berinovasi dan membuat terobosan dalam menciptakan kehidupan perkotaan yang lebih baik dan cerdas, terutama dari segi efisiensi energi dengan menciptakan konsep yang sangat dekat dengan mobilitas masyarakat perkotaan dan mampu memberikan efek yang sangat positif untuk mencapai efisiensi energi,” tutupnya.



Share :
Laporkan Artikel

Komentar


Kirim Komentar