14 November 2016 | Reza - Redaksi | Access Control

Urai Antrean Penumpang Bandara, IATA Prakarsai Sistem Security Check Mandiri

FOTO : Nathalie Herbelles (tengah) Dalam Diskusi Optimising Safety & Security While Enhancing The Passenger Experience, di Jakarta Convention Centre.

Bandara merupakan pintu gerbang suatu negara, maka dari itu setiap bandara di penjuru dunia dituntut untuk bisa memberikan jaminan keamanan bagi para penumpang dan pengunjung bandara. Untuk mewujudkan itu, diperlukan fasilitas yang memadai karena fasilitas dan keamanan adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Bentuk geografis Indonesia sebagai negara kepulauan dengan cakupan luas wilayah yang cukup besar telah melahirkan banyak bandara di tanah air untuk menghubungkan jalur transportasi dari satu tempat ke tempat lain. Hingga saat ini tercatat, Indonesia memiliki 23 bandara internasional, 194 bandara domestik, dan 15 bandara/pangkalan militer.

Situasi ini membuat Indonesia menjadi begitu penting di mata Internasional Air Transport Association (IATA). Pasalnya mengelola ratusan bandara bukanlah perkara mudah, baik pemerintah maupun otoritas pengelola bandara dituntut untuk memberikan jaminan keamanan dan fasilitas bandara dalam rangka memberikan pelayanan yang maksimal.

Asisten Direktur IATA untuk Bandara, Penumpang, Kargo dan Keamanan wilayah Asia Pasifik, Nathalie Herbelles, mengatakan pasar penerbangan domestik Indonesia cukup besar dan menduduki urutan kelima terbesar dalam kedirgantaraan dunia. Karena itu, IATA menjadikan Indonesia sebagai prioritas utama dalam rangka melindungi pertumbuhan dunia penerbangan.

“Bagi kami keamanan itu mencegah dan mengawasi pergerakan dari setiap titik pengecekan yang ada, artinya titik pengecekan pertama adalah screening bagian depan,” ujarnya dalam diskusi bertajuk Optimising Safety & Security While Enhancing The Passenger Experience, di Jakarta Convention Centre, beberapa waktu lalu.

Lebih jauh dia menuturkan, fakta di lapangan pada tahap screening bagian depan kerap memakan proses waktu yang cukup lama. Selain dinilai tidak efisien, kondisi ini juga rentan menjadi sasaran aksi serangan terorisme. Karenanya, Nathalie meminta pihak-pihak terkait untuk terus meningkatkan fasilitas keamanan bandara.

“Poin utamanya adalah bagaimana memfasilitasi itu, memastikan antrean tidak menjadi sasaran aksi teror. Mengenai itu, kami telah memprakarsai sebuah sistem security check secara mandiri seperti penggunaan boarding pass secara online melalu gadget atau seluler penumpang. Ini baik untuk keamanan,” jelasnya.



Share :
Laporkan Artikel

Komentar


Kirim Komentar