05 September 2019 | Andri - Redaksi | Access Control

Ikuti 5 Langkah Ini Agar Manajemen Akses Kontrol Jadi Lebih Baik

Sistem akses kontrol merupakan bagian integral dari keamanan seperti halnya kamera pengawas. Namun, sistem manajemen entri tidak akan berguna jika pengguna tidak dapat membuat langkah yang tepat untuk memastikannya berfungsi dengan benar. Bahkan, terlalu sering solusi akses kontrol dianggap sebagai sistem langsung yang tidak memerlukan banyak pemikiran sebelum instalasi.

Atin Chhabra, Direktur Global Pengalaman Pelanggan Digital di Schneider Electric, baru-baru ini menetapkan lima langkah yang perlu diperhatikan dalam memanfaatkan sistem akses kontrol. Dituliskan dalam sebuah postingan blognya, Chhabra menunjukkan bahwa untuk memastikan keselamatan dan keamanan penghuni di bangunan perumahan atau komersial, sistem integrator harus mempertimbangkan hal-hal berikut ini.


1. Tetapkan tujuan sistem dibangun

Sistem keamanan yang komprehensif harus dapat menentukan alasan penggunaan berbagai perangkat. Jadi penting untuk mengetahui mengapa sistem akses kontrol tertentu perlu dipasang di tempat tertentu. Ini akan membantu untuk memutuskan jenis teknologi apa yang akan digunakan dan bagaimana lingkungan harus dirancang.

Pertama dan terpenting, menurut Chhabra, seseorang harus memastikan apa tujuan mendasar dari sistem mereka dan apakah sistem saat ini secara efektif menyediakan hal tersebut. "Faktor penting untuk dipertimbangkan adalah penempatan sistem kontrol dan apakah itu melindungi individu dan aset yang benar-benar membutuhkannya."

2. Memeriksa hak akses

Lakukan pemeriksaan kelayakan secara rutin tentang siapa saja yang memiliki hak masuk ke manajemen keamanan. Bila hal ini tidak dilakukan, bisa jadi orang-orang yang masuk atau meninggalkan ruangan tidak dapat ditelusuri jejaknya. Inilah saatnya admin harus mempertimbangkan untuk memberlakukan masa berlaku hak akses khusus ini dengan waktu yang sudah ditentukan.

"Beberapa sistem dihadapkan pada masalah di mana jumlah kartu aktif yang mengendalikan sistem melebihi jumlah karyawan atau penghuni yang sebenarnya membutuhkannya. Kesalahan semacam ini dapat terjadi di seluruh organisasi, meskipun hal ini dapat dihindari dengan mengatur fitur masa berlaku kartu," kata Chhabra

Diapun mencontohkan, jika kartu tidak digunakan untuk waktu yang telah ditentukan di fasilitas kontrol, akses dimatikan. Setelah periode tidak aktif tertentu, kartu harus diperpanjang dengan menghubungkan kartu ke database karyawan.

3. Upgrade dan update

Seringkali karena faktor keuangan, masalah implementasi, atau kurangnya kemauan untuk melakukan perombakan sistem, menyebabkan solusi akses kontrol yang lama dan usang tetap digunakan. Sayangnya, ini memberikan kemudahan bagi intruder untuk mengeksploitasi teknologi dan memasuki lokasi.

"Kami menyarankan untuk mengganti sistem teknologi 125-kilohertz yang sekarang sudah usang dan harus diperbarui," kata Chhabra. "Manajemen keamanan gedung harus mulai menginstal teknologi terenkripsi sebagai gantinya. Idealnya, sistem akses kontrol harus diperbarui setiap sepuluh tahun dan tidak diperlakukan sebagai investasi satu kali."

4. Pengujian berkala

Uji berkala sering diterapkan dengan baik di industri keselamatan. Misalnya, latihan kebakaran diadakan secara rutin di banyak bangunan komersial. Di sisi lain, keamanan justru tidak dianggap sebagai sesuatu yang membutuhkan pengujian yang sering. Ini tentunya membahayakan penghuninya.

Chhabra menyebutkan, fungsionalitas sistem manajemen gedung harus diuji secara bulanan atau triwulanan. "Pengujian berkala akan memastikan fungsionalitas perangkat atau sistem dan memungkinkan manajer keamanan untuk merencanakan segala kemungkinan perubahan yang diperlukan jauh sebelumnya."

5. Waspadai tailgater

Administrator keamanan harus waspada terhadap orang-orang yang tampaknya hanya memegang pintu terbuka untuk orang lain tetapi sebenarnya membiarkan orang yang tidak berwenang masuk. Ini adalah cara mudah untuk mengalahkan teknologi tanpa menggunakan alat peretasan yang canggih.

"Memegangkan pintu untuk orang lain saat diminta dengan sopan telah menjadi kebiasaan umum, padahal ini menyebabkan potensi risiko," kata Chhabra. "Karyawan harus dididik untuk bisa mengamati dengan cermat untuk siapa mereka membuka pintu. Ada asumsi bahwa menerobos masuk sistem keamanan itu adalah sebuah tantangan yang bila mana berhasil memberikan rasa kepuasan tersendiri dan kebanggaan. Itulah sebabnya mengapa beberapa lapis keamanan harus ditegakkan untuk menangani masalah tailgating."




Share :
Laporkan Artikel

Komentar


Kirim Komentar