20 Oktober 2016 | Reza - Redaksi | CCTV
Fitur Spesial

VCA, Teknologi Penunjang Kota Pintar

Konsep kota pintar tengah menjamur di sejumlah negara, termasuk Indonesia. Pada umumnya, konsep kota pintar di kota-kota besar terfokus pada tiga hal; pengawasan lalu lintas (Traffic Monitoring), transportasi massal, dan antisipasi aksi kriminal.

Nantinya, kota-kota di masa depan yang menganut konsep kota pintar akan mengandalkan kamera CCTV untuk melakukan pengawasan secara mandiri sembari meneruskan informasi pada pihak berwajib apabila diperlukan.

Untuk mewujudkan hal ini, teknologi Video Content Analytic (VCA) sangat dibutuhkan. Pasalnya, teknologi ini mampu melakukan berbagai tugas, mulai dari analisis real-time video untuk deteksi langsung suatu peristiwa, hingga analisis video pra-rekaman untuk tujuan pendalaman peristiwa dan mendapatkan data dari rekaman video. Dengan demikian, tugas-tugas seperti pengenalan wajah, mengukur kecepatan kendaraan, atau pemantauan arah lalu lintas bukan lagi perkara sulit.

Penerapan teknologi VCA bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan. Ada dua alternatif cara yang biasa digunakan. Yang pertama dengan menggunakan kamera CCTV yang sudah ditanami chips yang memiliki fitur analitik, nantinya proses analisis video dikerjakan secara mandiri oleh kamera tanpa membebani server. Cara yang kedua menggunakan kamera CCTV biasa tapi didukung software yang memiliki fitur analitik, nantinya proses penganalisisan video akan dilakukan oleh server.

Alfred Bisuk, praktisi System Integrator, berpendapat tolak ukur keberhasilan konsep pengawasan kota pintar adalah bagaimana memaksimalkan fungsi kamera yang ada dengan bantuan software yang telah dilengkapi fitur analitik.

Alfred menjelaskan ada beberapa software yang sudah memiliki banyak fitur analitik yang cukup mumpuni dalam mendukung konsep kota pintar, salah satunya iOmniscient. Fitur-fitur analitiknya antara lain Vandalism and Graffiti Detection, Gathering of Groups, Fighting, Crowd Management, Tracking People, Management of Public Spaces, Loitering at Night/Soliciting, Track Vehicles, Speed Detection, dan Smoke and Fire Detection. 

Alfred menambahkan kemampuan kamera pada umumnya sangat terbatas, artinya kamera akan sangat terbebani jika harus mengerjakan proses analitik dan streaming secara bersamaan. Jadi peran software analitik adalah untuk dapat mengerjakan banyak tugas secara bersamaan tapi dapat tetap fokus.

Software analitik juga bisa memangkas waktu operator dalam menyelidiki suatu peristiwa (forensic search), tanpa membuang waktu melihat ulang rekaman video dari awal. “Percuma kota pintar punya banyak kamera jika untuk mencari wajah seorang pelaku kejahatan saja memerlukan waktu lama.”

Technical Manager Hikvision, Eko Purnomo, tak menampik pentingnya keberadaan software analitik dalam sebuah sistem. Tapi dia mengingatkan bahwa dalam sistem pengawasan beban kerja terbanyak ada di sisi backend.

Hikvision meminimalisir hal tersebut dengan memprosesnya di kamera, sedangkan keberadaan software hanya sebatas untuk pengintegrasian sistem. Untuk alasan itu, penggunaan kamera yang sudah memiliki fitur analitik menurutnya sangatlah penting,dan banyaknya jumlah kamera juga perlu diperhitungkan sesuai kebutuhan.

“Pada setiap kamera smart Hikvision seri 6-line dan 4-line telah tertanam chip yang memiliki fitur analitik, antara lain Motion Detection, Line Crossing, Line Intrusion, Region Entrance, Region Exiting, Unattended Baggage, dan Object Removal. Kamera kami juga ada yang memiliki fitur lain seperti License Plate Recognition Face Detection, Heat Maping, dan People Counting. Untuk pelacakan otomatis, kamera seri PTZ kami mampu mengikuti pergerakan secara otomatis.”

Sementara itu Supervisor Product Specialist PT Pasifik Teknologi Indonesia, Vincent Eka, mengingatkan ada risiko tersendiri jika beban kerja video analitik terlalu difokuskan pada software analitik di server, karena begitu terjadi lag, sistem pengawasan menjadi terhambat.

Karena itulah penempatan kamera yang telah memiliki kemampuan analitik adalah solusi pengawasan yang tepat. “Produk Dahua punya banyak solusi analitik yang tepat untuk Kota pintar, seperti ANPR untuk deteksi pelat nomor kendaraan; Line Violation untuk pengawasan arus lalu lintas; Mobile Surveillance untuk pengawasan di dalam bus; dan Electronic Fence untuk menjaga agar bus tidak keluar dari trayeknya.”

Sedangkan Dapot Sitanggang, Product Marketing Manager Bosch, menegaskan bahwa penempatan banyak kamera CCTV adalah kebutuhan mendasar dalam sistem pengawasan agar tidak ada wilayah yang luput dari pengawasan (blank spot). Dia menambahkan, memang secara kasatmata memasang banyak kamera yang telah memiliki fitur analitik terlihat lebih mahal dari segi pembiayaan awal, namun lebih ekonomis untuk jangka panjang. “Kamera dari Bosch sudah mampu melakukan teknologi video analitik. Bahkan satu kamera bisa melakukan delapan tugas tanpa dibebani masalah lisensi, mulai dari Line Crossing, Follow Road, Remove Object, Counting, Crowd Density, Speed, Masking, dan People Tracking.”

Di samping itu, Dapot mengingatkan faktor jaminan keamanan data juga perlu diperhatikan. Sistem recording harus semaksimal mungkin terbebas dari ancaman para peretas dan orang-orang yang tidak bertanggung jawab, karena itu diperlukan perangkat yang sudah memiliki sistem enkripsi berstandar internasional sehingga bisa menjamin keamanan data. “Pihak-pihak yang bisa punya akses ke kota pintar, berarti di dalam genggamannya terdapat banyak informasi yang bisa dimanfaatkan untuk kebaikan atau kejahatan, seperti menghapus atau memodifikasi bukti dari data rekaman.”

 

 

Sumber : Majalah Indo Security System Vol. 2 Edisi September - November 2016



Share :
Laporkan Artikel

Komentar


Kirim Komentar