04 Juni 2018 | Denny - Redaksi | CCTV

Mahasiswa ITB Berhasil Ciptakan CCTV Pengenal Wajah

CCTV Pengenal wajah ciptaan mahasiswa ITB

Tiga mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) yaitu Reza Montazery Permanda, Fransiskus Yoga Esa Wibowo, dan Rafi Dasa Nanda Putra, berhasil menciptakan sistem penghitungan pengunjung dan juga pengenalan wajah yang diintegrasikan dengan kamera CCTV.

Sistem penghitungan pengunjung dan pengenalan wajah ini diciptakan dengan alasan untuk meningkatkan sisi bisnis dengan pengolahan data tertentu dan juga mengurangi risiko kasus kriminal seperti pencurian dan perampokan.

"Kadang di museum atau pertokoan memiliki CCTV, namun tetap saja dengan sistem yang sudah ada hampir tidak memungkinkan untuk bisa menghitung secara manual jumlah pengunjung yang datang pada hari tersebut, padahal hal itu penting untuk pengolahan data lebih lanjut dalam pusat perbelanjaan tertentu," ujar Reza seperti dikutip laman ITB.

Selain itu, fitur facial recognition juga dikembangkan untuk mengetahui keluar masuk orang dalam sebuah ruangan.

"Apakah orang yang tadinya masuk ke dalam ruangan sudah keluar atau belum. Seandainya ada tindakan pencurian yang terekam CCTV, kita juga jadi memiliki data yang mencukupi untuk mengetahui kapan dia masuk dan keluar sehingga lebih mudah bagi petugas keamanan untuk melacak pelaku," katanya.

Reza mencontohkan keamanan di transportasi umum seperti kereta api atau bus. "Kadang ada penumpang yang suka menyelundup tanpa membeli tiket atau membayar. Penggunaan sistem ini bisa membantu pengusaha untuk mencari cara menanggulangi masalah yang merugikan bagi mereka," terangnya

Dia menegaskan, kedua sistem yang mereka kembangkan lebih efisien dan lebih hemat, karena sistem akan menggunakan server dari komputer security. Sehingga tidak diperlukan pembuatan server baru yang akan memakan lebih banyak biaya lagi.

"Tiongkok sebelumnya sudah mengembangkan visitor counter juga, namun hanya ada fitur menghitung jumlah pengunjung dan mengambil gambar saja, belum mengembangkan fitur facial recognition. Selain itu, alat yang dikembangkan Tiongkok juga membutuhkan server sendiri dan tentunya lebih mahal dari karya kami yang menggunakan server yang terintegrasi dengan komputer security," ujar Reza.

Kedepannya, Reza berharap agar karya yang dikembangkannya itu dapat diproduksi secara massal. Sehingga karya anak bangsa di bidang teknologi dapat membantu menurunkan angka kriminalitas di Indonesia.



Share :
Laporkan Artikel

Komentar


Kirim Komentar