15 Juni 2016 | Desy - Redaksi | Fire Alarm

Pentingnya Detektor Karbon Monoksida

Karbon monoksida (CO) sering disebut sebagai “pembunuh tanpa suara”, pasalnya CO tidak berbau dan sulit dideteksi. Gas beracun ini masuk ke rumah dari banyak sumber yang tampak tidak berbahaya. Bahkan dalam dosis kecil, karbon monoksida dapat membahayakan dan bahkan bisa menimbulkan kerusakan permanen jika tidak segera diketahui, dan dalam dosis besar bisa mematikan.

Menurut Centers for Disease Control, selama periode 1999-2000, keracunan CO yang tidak disengaja menjadi penyebab 5.149 kematian di Amerika Serikat saja. Itu berarti rata-rata terjadi 430 kematian per tahun, atau lebih dari satu orang kehilangan nyawanya akibat keracunan CO setiap hari.

Namun, penyebab kematian dari keracunan CO sebenarnya dapat dicegah. Industri perangkat sistem keamanan punya solusi terbaik untuk menghindari kematian seperti ini yakni penggunaan detektor karbon monoksida di rumah, baik detektornya saja atau yang terhubung ke sistem keamanan menyeluruh.

Bagaimana cara kerja detektor karbon monoksida?

Detektor CO membunyikan alarm ketika merasakan sejumlah tertentu karbon monoksida di udara. Jenis alarm yang berbeda dipicu oleh jenis sensor yang berbeda.

  •  Sensor biometrik: Gel berubah warna ketika menyerap CO, dan perubahan warna ini memicu alarm.
  •  Semikonduktor oksida logam: Ketika sirkuit chip silica mendeteksi CO, hal itu menyebabkan penurunan tegangan listrik, dan perubahan ini memicu alarm.
  •  Sensor elektrokimia: Elektroda yang terendam dalam solusi kimia merasakan perubahan arus listrik ketika mereka bersentuhan dengan karbondioksida, dan perubahan ini memicu alarm.

Begitu alarm berbunyi, detektor CO harus berada dalam lingkungan bebas-CO untuk bisa me-reset dirinya sendiri.

Ketika alarm berbunyi, jangan panik. Kumpulkan semua orang dan keluar dari rumah untuk mendapat udara segar. Awasi kesehatan mereka, amati gejala yang mirip gejala flu yang dapat mengindikasikan keracunan CO. Jika gejalanya tampak nyata, segera hubungi petugas medis.

Jika memungkinkan, buka semua pintu dan jendela sebelum keluar dari rumah. Dan jangan masuk lagi ke rumah sampai alarm berhenti berbunyi atau sampai pihak berwenang menyatakan keadaan telah aman. Hubungi ahli untuk mengevaluasi semua perabotan rumah yang menggunakan bahan bakar dan sumber CO lain yang mungkin untuk menghindari kejadian yang sama di masa depan.

Detektor CO sebaiknya dipasang di beberapa lokasi berbeda, seperti di luar pintu kamar tidur, di setiap lantai rumah, dan di tempat-tempat yang disarankan petugas berwenang.

Studi menunjukkan bahwa detektor CO yang dipasang dan dirawat dengan benar dapat menjadi penyelamat nyawa. Karena keracunan CO dapat menyebabkan kebingungan dan kehilangan kesadaran, detektor yang dimonitor dapat menyelamatkan mereka yang tertidur atau yang tidak bisa menyelamatkan diri mereka sendiri. Bahkan ketika seseorang sadar atau terbangun, pada dasarnya CO membuat korbannya tertidur. Dan rata-rata rumah yang menggunakan gas alam memiliki banyak area yang berpotensi mengalami kebocoran.

Selanjutnya, putuskan apakah akan menggunakan detektor yang dioperasikan baterai atau detektor plug-in, yang akan perlu diletakkan di soket listrik di dinding. Detektor plug-in biasanya dapat dipindahkan dari satu ruangan ke ruangan lain ketika dibutuhkan, tapi jika terjadi pemutusan daya akan dibutuhkan semacam baterai cadangan agar detektor dapat terus bekerja. Unit yang dioperasikan baterai biasanya dipasang secara permanen di dalam rumah, seringnya berbarengan dengan pemasangan detektor asap atau sistem keamanan lainnya. Pikirkan juga apakah perlu untuk menghubungkan satu detektor ke detektor lain yang dipasang di rumah, siapa tahu ada detektor yang menyala di bagian lain rumah.



Share :
Laporkan Artikel

Komentar


Kirim Komentar