17 Maret 2016 | Denny - Redaksi | News

Intel Security: Internet of Things di Asia Tenggara Belum Penting

Dunia usaha berbasis IT di Asia Tenggara sudah menggunakan Internet of Things (IoT), namun mereka ternyata tak mementingkan sistem keamanannya. Setidaknya itulah yang dilaporkan oleh hasil survey yang dilakukan Intel Security belum lama ini. Survei dilakukan di Singapura, Malaysia, Thailand, Indonesia dan Filipina, dan menampilkan analisis luas dari pemain kunci dalam organisasi IT, kalangan CEO untuk pengembang untuk administrator sistem. Total responden yang terlibat sebanyak 1.953 orang.

Negara Filipina menjadi peringkat tertinggi sebagai yang paling sadar yakni 53 persen untuk keamanan IoT . Setelahnya ditempati Malaysia sebesar 46 persen dan Singapura yang berdiri di posisi 42 persen. Sementara Indonesia sendiri mencapai angka 40 persen. Sedangkan Thailand berada di tingkat terendah untuk kesadaran keamanan IoT dengan level 39 persen dari para pemimpin IT.

Hasil survei ini cukup mengejutkan, mengingat Asia Tenggara digadang-gadang sebagai pasar penetrasi terbesar untuk perangkat IoT global. Sementara ukuran pasar IOT di Asia Pasifik diperkirakan akan tumbuh menjadi US $ 862 juta pada tahun 2020. Intel Security memprediksi bahwa kerentanan tumbuh timbul dari teknologi baru seperti serangan DDoS dan perangkat spammed akan membuka kemungkinan baru untuk hacker dan penjahat dunia maya dapat beraksi.

Intel Security juga menanyakan solusi dari para pemimpin dunia IT untuk implementasi pengamanan IoT. Hampir semua negara sepakat pada teknologi keamanan yang canggih sebagai yang paling penting. Solusi lainnya, adalah membangun kesadaran keamanan di level karyawan, menyiapkan komite pengarah IT dan meningkatkan staf departemen keamanan.

Dari seluruh negara yang disurvei, hampir semua pemimpin IT percaya bahwa deteksi dan alat analisis yang lebih baik akan relevan untuk menjamin keamanan. Pemimpin IT dari Singapura, Malaysia dan Filipina diyakini lebih banyak berperan dalam pelatihan keamanan IT, sedangkan dari Thailand dan Indonesia masih sedikit.

 



Share :
Laporkan Artikel

Komentar


Kirim Komentar