23 September 2016 | Reza - Redaksi | News

Hasil Riset : Perkembangan IoT Belum Dibarengi Persiapan Yang Matang

Foto : Ilustrasi Konsep Internet of Things

Perkembangan Internet of Things (IoT) makin merajalela. Pada masa sekarang ini di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, sudah terlihat bagaimana perusahaan dan pemerintah mulai mengintegrasikan perangkat IoT. Penerapan IoT pun sudah merambah ke segala lini, mulai dari smart city, otomotif, peralatan rumah tangga, gadget hingga mainan anak.

Lembaga riset Gartner memprediksi, pada tahun 2020 akan ada 21 miliar perangkat berbasis Internet of Things (IoT) yang beredar di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, enam persen akan diadaptasi pada sektor perangkat IoT untuk menunjang industri. Kendati demikian, potensi dan perkembangan IoT yang begitu besar, belum dibarengi dengan persiapan yang matang. Setidaknya ada beberapa kebutuhan dasar yang paling penting dalam penerapan IoT yang harus dipersiapkan yaitu dari sisi keamanan, kemampuan mengidentifikasi standar perangkat, dan tentu saja kebijakan akses dan jaringan.

Tim Zimmermann, Research Vice President Gartner menegaskan harus ada yang mengambil inisiatif untuk mempersiapkan standar dan aturan yang jelas tentang perangkat IoT, mengingat adanya potensi serangan peretas pada perangkat IoT. “Apakah kamera video surveillance untuk parkir, detektor gerak di ruang konferensi atau drone untuk memantau bangunan telah punya standar keamanan yang jelas? Ini yang harus menjadi pemikiran bersama karena di tahun 2020 akan ada 21 miliar perangkat terkoneksi IoT yang beredar,” tuturnya.

Lebih lanjut Zimmermann menyarankan, agar di level IT para perusahaan mulai mengidentifikasi perangkat IoT yang digunakan agar terhubung pada infrastruktur perusahaan. Setelah semua perangkat yang terindetifikasi terpasang ke jaringan, organisasi IT harus membuat atau mengubah kebijakan akses jaringan sebagai bagian dari strategi penegakan kebijakan perusahaan. Selain itu, dia menambahkan, dalam melakukan monitoring perangkat IoT, pengambil kebijakan juga harus memperhatikan prioritas akses data, seperti lalu lintas data pada aplikasi enterprise harus lebih diutamakan.



Share :
Laporkan Artikel

Komentar


Kirim Komentar