25 September 2016 | Reza - Redaksi | News

Pertumbuhan Pasar Rumah Pintar Tak Diimbangi Jaminan Keamanan Perangkat

Foto : Ilustrasi Aksi Hacker
Pesatnya tren otomatisasi rumah mendorong permintaan produk perangkat rumah pintar. Lembaga riset ABI Research memprediksi, pada tahun 2020 mendatang jumlah pengiriman barang/produk perangkat rumah pintar akan mencapai 360 juta perangkat. 
 
Sayangnya, kondisi pasar yang baik ini membuat para vendor penyedia perangkat rumah pintar lebih fokus memenangkan persaingan bisnis. Sehingga tak jarang, beberapa vendor kerap luput soal jaminan keamanan perangkat mereka, mengingat konsep rumah pintar sangat bergantung dengan jaringan internet karena otomatisasi rumah membutuhkan dukungan perangkat yang bisa diintergrasikan secara nirkabel. Sementara, internet itu sendiri telah menjadi media penyebaran malware yang sangat berbahaya. 
 
Dimitrios Pavlakis, Industry Analyst ABI Research mengungkapkan di lapangan ditemukan sejumlah temuan, terkait sejumlah produk perangkat rumah pintar yang sudah tersebar dan digunakan konsumen telah terserang ransomware (varian baru malware). Dia menjelaskan, ransomware, secara sederhana dapat diklasifikasikan sebagai malware yang memiliki kemampuan untuk mengunci komputer atau mengenkripsi file untuk mengelabui penggunanya. Tujuannya adalah membuat pengguna memberikan uang tebusan agar file yang tersandera tersebut dilepaskan. 
 
Dalam kondisi tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa belum ada jaminan bagi perangkat rumah pintar yang bebas dari ancaman ekploitasi oleh para hacker. "Kami melihat peningkatan yang mengkhawatirkan dalam ransomware di smart TV dan kamera IP, serangan kode injeksi, bukti ancaman zero-day, dan password menguping untuk kunci pintar dan perangkat yang terhubung. Keamanan ekosistem rumah pintar saat ini sangat tidak memadai. Vendor perangkat rumah pintar harus mulai menerapkan mekanisme cybersecurity pada tahap desain produk mereka," tuturnya.


Share :
Laporkan Artikel

Komentar


Kirim Komentar