03 Oktober 2016 | Reza - Redaksi | News

Menuju Kota Pintar, Pemkot Malang Fokus Pada Enam Dimensi Ini

Foto : Gedung Balai Kota Malang

Tren kota pintar atau smart city sudah seperti virus yang menyebar begitu cepat di penjuru nusantara. Pelan namun pasti, satu per satu kota-kota di Indonesia mulai mempersiapkan diri untuk mengaplikasikan konsep kota pintar, tak terkecuali kota Malang. Lalu bagaimana persiapan dan pandangan pemerintah kota Malang terkait konsep yang mengadopsi teknologi untuk meningkatkan kehidupan masyarakat ini? Berikut penjelasan dan pandangannya.

Wakil Walikota Malang, Sutiaji, menyatakan smart city merupakan konsep kota pintar yang dapat membantu masyarakat mengelola sumber daya dengan efisien dengan memanfaatkan teknologi secara maksimal. Kendati demikian, dia menegaskan, konsep ini juga perlu ditunjang dengan sumber daya manusia yang memadai, artinya aparat harus bisa memberikan informasi yang tepat kepada masyarakat atau lembaga dalam melakukan kegiatannya.

Menurut Sutiaji ada enam dimensi smart city yang perlu dikembangkan secara maksimal agar dapat meningkatkan tatanan kehidupan masyarakat. Pertama, smart economy atau ekonomi pintar. Dimensi ini mencakup inovasi dan persaingan. Semakin banyak inovasi baru yang dikembangkan maka akan menambah peluang usaha baru dan meningkatkan persaingan pasar usaha/modal. “Meningkatnya jumlah pelaku usaha mengakibatkan persaingan pasar menjadi semakin ketat. Karena itu inovasi-inovasi baru perlu diciptakan untuk mempertahankan eksistensi bisnis pelaku usaha tersebut,” paparnya.

Kedua, lanjutnya, smart mobility. Dimensi ini mencakup transportasi dan pembangunan infrastruktur. Pembangunan infrastruktur diwujudkan melalui penguatan sistem perencanaan infrastruktur kota, pengembangan aliran sungai, peningkatan kualitas dan kuantitas air bersih, pengembangan sistem transportasi, dan lain-lain. Dengan ketersediaan sarana/prasarana transportasi dan infrastruktur yang memadai akan meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Ketiga, smart environment (lingkungan). Lingkungan pintar berarti lingkungan yang bisa memberikan kenyamanan, keberlanjutan sumber daya, keindahan fisik maupun non fisik, visual maupun tidak,bagi masyarakat dan publik.

Keempat, smart people (kreativitas dan modal). Pembangunan senantiasa membutuhkan modal, baik modal ekonomi (economic capital), modal manusia (human capital) maupun modal sosial (social capital). Kemudahan akses modal dan pelatihan-pelatihan bagi UMKM dapat meningkatkan kemampuan dan ketrampilan mereka dalam mengembangkan usahanya. Modal sosial termasuk seperti kepercayaan, gotong royong, toleransi, penghargaan, saling memberi dan saling menerima serta kolaborasi sosial memiliki pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan ekonomi melalui berbagai mekanisme seperti meningkatnya rasa tanggung jawab terhadap kepentingan publik.

Kemudian yang kelima adalah smart living (kualitas hidup). Berbudaya, berarti bahwa manusia memiliki kualitas hidup yang terukur (budaya). Kualitas hidup tersebut bersifat dinamis, dalam artian selalu berusaha memperbaiki dirinya sendiri.

Dan yang terakhir, smart governance (pemberdayaan dan partisipasi). Keberpihakan pemerintah daerah perlu ditingkatkan untuk mengembangkan wilayah-wilayah tertinggal sehingga wilayah-wilayah itu dapat tumbuh dan berkembang secara lebih cepat dan dapat mengejar ketinggalan pembangunan.



Share :
Laporkan Artikel

Komentar


Kirim Komentar