20 Oktober 2016 | Reza - Redaksi | News

Kota Pintar Jangan Sekadar Canggih Melainkan Layak Huni

Foto : Ilustrasi Konsep Kota Pintar

Beberapa waktu belakangan ini, konsep kota pintar (Smart City) menjadi begitu akrab ditelinga masyarakat. Berbagai negara mau pun kota di belahan dunia, termasuk Indonesia satu per satu mulai menerapkan konsep ini. Ditambah lagi adanya berbagai pertemuan dan konferensi baik nasional maupun internasional yang membahas konsep ini.

Namun sebelum menerapkan konsep kota pintar, ada baiknya para pengambil kebijakan setempat harus mengenali dulu apa yang menjadi permasalahan di dalam kotanya. Karena penerapan konsep kota pintar itu tak semata keinginan dari pemerintah daerah agar program kerjanya terealisasi. Tapi, bagaimana konsep itu diketahui dengan jelas oleh masyarakatnya. Sehingga, dapat mengakomodir masalah yang dialami warga, seperti kriminalisasi, kemacetan, dan lain-lain

Country Managing Director Accenture Indonesia, Neneng Goenadi menegaskan, konsep smart city adalah lingkungan yang diperkaya oleh digital, namun berkelanjutan dan layak dihuni. Layak tidak hanya canggih, namun juga hemat energi, dan bermanfaat bagi penghuninya. Canggih secara teknologi, digital, ataupun system tidak menjamin adanya keberlajutan ataupun kelayakan huni.

 “Konsep kunci seperti Partisipasi Masyarakat dalam Perencanaan Perkotaan, Model Pembiayaan Publik/Swasta, dan penggunaan SPV (Special Purpose Vehicles) telah diimplementasikan dalam program Kota Cerdas,” tuturnya

Dia melanjutkan, kota yang inovatif akan memetik keuntungan yakni, warga lebih terhubung dengan pemerintah dan berperan aktif dalam kehidupan kota jika sistem dan layanannya memenuhi kebutuhan dan meningkatkan standar hidup. “Hal lain adalah perlunya membangun kerja sama dengan stakeholders lain untuk mendapat banyak saran dan ide untuk smart city yang berkelanjutan,” ujar dia.



Share :
Laporkan Artikel

Komentar


Kirim Komentar