08 November 2016 | Reza - Redaksi | News

Mewujudkan Konektivitas Melalui ASEAN G2B Infrastructure Investment Forum

FOTO : Wapres JK Tengah Berpidato di Podium ASEAN G2B Infrastucture Investment Forum 2016

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bersama dengan pemerintah Indonesia dan Sekretariat ASEAN menggelar ASEAN G2B (Goverment to Business) Infrastructure Investment Forum 2016. Forum tingkat tinggi ini menandai peluncuran acara Indonesia Infrastructure Week 2016, yang dihelat pada tanggal 9-11 November di Jakarta Convention Centre.

Lebih dari 400 perwakilan yang terdiri dari pemerintah Indonesia dan negara-negara ASEAN, termasuk investor dan penyedia solusi bidang infrastruktur baik milik pemerintah maupun swasta terlibat dalam forum yang digelar di Ballroom Hotel Shangri-La Jakarta. Dalam kesempatan itu, pihak-pihak yang terlibat fokus membahas Master Plan for ASEAN Connectivity 2025 (MPAC) yang baru saja diratifikasi oleh pemimpin-pemimpin negara ASEAN pada bulan September lalu.

Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla, mengatakan di belahan dunia mana pun dan di seluruh negara pasti terus fokus untuk membangun infrastruktur. Menurutnya, yang melakukan itu bukan hanya negara berkembang seperti Indonesia tapi juga negara maju. “Kebutuhan infrastruktur untuk semua negara sangat dinamis, tidak pernah berhenti sama seperti pertanian,” ujar JK, Selasa (8/11/2016).

JK menuturkan, dilakukannya pembahasan MPAC adalah untuk mewujudkan konektivitas di kawasan Asia Tenggara atau ASEAN conectivity. Konektivitas itu diperlukan untuk memperbaiki kehidupan warga ASEAN dengan memberikan lebih banyak kesempatan dan kesejahteraan melalui peningkatan pembangunan ekonomi dan sosial. “Konektivitas bisa mendukung pertumbuhan ekonomi.”

Karena itu, sambung JK, semua negara ASEAN apalagi Indonesia membuka kesempatan besar untuk pembangunan infrastruktur bisnis yang valueable agar bisa dikerjakan oleh pihak swasta, sehingga pemerintah bisa fokus melakukan pembangunan infrastruktur bersifat sosial, yang melayani masyarakat seperti saluran irigasi. JK pun berharap, usai digelarnya forum ini segala rencana pembangunan yang sudah ada akan segera dilaksanakan. “Pada masa sekarang ini, infrastruktur sudah menjadi industri. Maka pemerintah berperan membagi bisnis ini ke dunia usaha.”

Senada dengan itu, Menteri Perencanaan Pembangunan/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro menegaskan bahwa forum diskusi ini akan memberikan kesempatan bagi pemerintah pusat maupun daerah, BUMN, para pengembang teknologi, dan layanan terkemuka di sektor swasta, dan investor-investor besar untuk menjalin hubungan strategis dalam mendorong percepatan pembangunan infrastruktur. Bambang menambahkan, forum ini akan menjadi bermanfaat jika pembahasan pembangunan infratruktur tidak mengesampingkan daerah-daerah atau pulau terluar yang ada di Indonesia.

"Ini akan bermanfaat bagi masyarakat ASEAN. Pulau terluar dan terpencil menjadi suatu hal yang sangat penting untuk konektivitas ASEAN. Terkoneksi secara lokal dan terintegrasi secara internasional," ucap Bambang.

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pemerintah akan mengawal Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang menggarap proyek-proyek infrastruktur strategis. Kawalan tersebut bukan hanya dalam bentuk pengawasan tapi juga memberikan jaminan dalam menjalankan proyek. Sri Mulyani menjamin bahwa pihaknya akan memberikan jaminan langsung agar BUMN mudah dari sisi permodalan. Hal itu agar para BUMN nyaman dalam menjalankan proyek amanat negara.

Kendati demikian, Sri Mulyani mengimbau agar pihak swasta tidak perlu khawatir. Meski BUMN mendapatkan bantuan, pemerintah juga akan terbuka jika pihak swasta tertarik untuk masuk dalam proyek-proyek infrastruktur strategis di Indonesia. Sebab diperkirakan pemerintah dan BUMN hanya mampu menggerakkan kurang dari 40 persen dari total proyek yang ada di dalam RPJMN 2019. "Banyak yang bertanya apakah BUMN akan melengkapi atau bersaing dengan swasta. Pemerintah menjamin ada ruang buat semua," pungkasnya.

Sekadar catatan, dalam ASEAN G2B Infrastructure Investment Forum juga disampaikan sejumlah proyek infrastruktur nasional yang dipaparkan di depan investor dan industri infrastruktur terkemuka dari negara anggota ASEAN dan belahan dunia lainnya. Proyek prioritas yang ditampilkan antara lain jalan tol Yogyakarta-Solo, Ro-Ro Bitung-Davao, Pelabuhan Kuala Tanjung, Bandar Internasional Kertajati, program pembangunan pembangkit listrik 35.000 Megawatt (MW), dan jalan tol Sukabumi-Ciranjang-Padalarang.



Share :
Laporkan Artikel

Komentar


Kirim Komentar