21 Desember 2016 | Denny - Redaksi | News

Red Hat: Sistem Smart City Harus Pakai Open Source Software

Smart City

Aplikasi smart city atau kota pintar di Indonesia bisa dibilang sudah semakin menjamur. Tak hanya di kota-kota besar saja, namun kini sudah diterapkan di kota-kota kecil. Sistemnya pun kini juga semakin rumit dan masif agar layanan publik dapat terakomodasi.

Namun agar berjalan lebih optimal, sistem smart city haruslah ditopang oleh sebuah software mumpuni. Country Manager PT Red Hat Indonesia Rully Moulany, mengatakan software tersebut dipakai untuk mengelola data yang sangat besar.

Untuk itulah, Rully menyarankan implementasi smart city haruslah menggunakan software berbasis open source. Selain lebih murah, Rully mengganggap software open source memiliki fleksibilitas sehingga mudah diterapkan dalam sistem apapun.

“Kalau kita bicara sesuatu yang cukup masif, terus kita menggunakan proprietary, maka biayanya akan sangat luar biasa. Sementara bicara digital, tidak ada tren cost meningkat,” tuturnya dalam sebuah kesempatan, Jumat (16/12/2016).

Dia menambahkan, sekarang perusahaan startup menggunakan open source karena entry barrier yang rendah jadi membuatnya lebih mudah. Bahkan, dengan software open source ini, pengguna dapat berkontribusi balik terhadap layanan smart city.

“Smart city tanpa aplikasi open source, seperti digital innovation tanpa open source. Tidak akan bisa mencapai skala yang dibutuhkan sehingga memberikan keuntungan yang berarti bagi warganya,” pungkas Rully.



Share :
Laporkan Artikel

Komentar


Kirim Komentar