30 Mei 2017 | Denny - Redaksi | News

Biaya Smart City Bisa Hemat Jika Penggunaan Teknologi Tepat

Ilustrasi

Penggunaan anggaran untuk mewujudkan konsep smart city ternyata bisa dihemat hingga 50-60 persen jika penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sudah tepat, antara infrastruktur aplikasi dan berbagai faktor lainnya.

Hal ini disampaikan oleh Direktur Jasa Teknologi Informasi Lintasarta, penyedia platform smart city, Arya N Soemali pada 'Indonesia Smart City Summit 2017: Gerakan Menuju 100 Smart City' di Makassar, Sulsel, yang berlangsung pekan lalu.

Arya mengatakan, setiap pemerintah daerah kerap mengimpor perangkat seperti CCTV, wifi, server, komputer serta membuat aplikasi e-government masing-masing. Oleh sebabnya, data Kemdagri mencatat total belanja TIK nasional mencapai Rp 40 triliun per tahun.

Dia menganggap pembangunan kota pintar memang membutuhkan dana investasi yang besar. Namun tidak akan efisien jika penyediaan perangkat tersebut dilakukan secara tambal sulam yang akan membuat penerapan suatu sistem kota pintar terhambat. "Pasalnya belum tentu suatu perangkat bisa berjalan jika dipasangkan dengan perangkat lainnya meski sejenis," ungkapnya.

Untuk itu, Lintasarta pun menawarkan solusi  solusi pengembangan kota pintar yang jauh lebih efisien dengan konsepnya yang terintegrasi. Mulai dari penyediaan jaringan internet, data center, server, 'cloud', hingga aplikasinya sekaligus tenaga yang berkompeten.

"Kami memiliki infrastruktur fiber optik di 146 kota dengan panjang 2.800 km di Indonesia, cloud (komputasi awan), sejumlah data center berkapasitas besar, 14.000 stasiun penerima sinyal dari satelit dan sejumlah aplikasi untuk mendukung smart city," jelasnya.

Yang penting, Arya menegaskan, jangan sampai para pemerintah daerah salah memilih teknologi dan membuat keputusan. Jarena konsep kota pintar bertujuan untuk mengatasi masalah perkotaan sekaligus meningkatkan kualitas hidup warganya.



Share :
Laporkan Artikel

Komentar


Kirim Komentar