04 Juli 2017 | Reza - Redaksi | News

Institut Fraunhofer Kembangkan Teknologi Pengawas Lansia

Fakta di lapangan menunjukan bahwa banyak anggota keluarga berkategori lansia (lanjut usia) yang tinggal sendirian dirumahnya, lantaran ditinggal anggota keluarga lainnya untuk melakukan aktivitas.  Padahal faktor usia dan fisik yang tak lagi prima menjadikan para lansia sangat rentan dengan kondisi-kondisi yang tak diinginkan.

Kondisi ini kadang menjadi momok tersendiri bagi anggota keluarga lainnya, tak jarang ketakutan ini menganggu aktivitas. Terkait itu, Institut Fraunhofer Jerman tengah mengembangkan teknologi Rekayasa Perangkat Lunak Ekperimental (IESE), yang diklaim mampu menjawab kondisi tersebut diatas. Keamanan dari teknologi ini terutama ditujukan untuk orang tua yang tinggal sendiri dirumah mereka.

Kendati demikian namun dalam faktanya, banyak orang yang enggan dipantau oleh kamera bahkan oleh kerabatnya. Peneliti dari Fraunhofer IESE, Deutsches Institut dan CIBEK technology + trading GmbH kini telah mengembangkan sistem SUSI TD yang menggabungkan keamanan dengan privasi. Tak ada kamera atau perangkat sejenis lainnya yang bisa dilihat di lingkungan rumah.

“Sistem kami didasarkan pada sensor non-invasif, terutama pada detektor gerakan (seperti yang digunakan pada lampu dan alarm) serta sensor sentuh yang ditempatkan pada laci atau lemari pendingin yang sering digunakan,” papar Rolf van Lengen, Kepala Departemen di IESE.

Berdasarkan data sensorik, sistem learning untuk mengidentifikasi tindakan berulang orang tersebut dan untuk mengenali kapan bantuan yang diperlukan. Data yang dikumpulkan tetap berada di tempat tinggal dan dievaluasi ditempat yang sama. Hanya saja, jika perilaku orang tersebut menyimpang dari biasanya, sistem akan mengirim pesan terenkripsi ke pusat asuhan keperawatan.

“Dengan menggunakan alat komunikasi video, orang dapat berbicara langsung dengan penasehat dukungan perawatan melalui layar sentuh. Alhasil, konsultan dapat membantu orang-orang dengan lebih efektif dibanding jika mereka hanya membayar kunjungan ke rumah sesekali. Lebih dari itu, melalui alat komunikasi, warga juga bisa menghubungi rekannya dan anggota keluarga, bermain game atau berbagi foto,” jelas Anne Gebert dari Deutsches Institut für angewandte Pflegeforschung eV.



Share :
Laporkan Artikel

Komentar


Kirim Komentar