07 Juli 2017 | Reza - Redaksi | News

Meneropong Potensi Bisnis IoT di Tanah Air

Perkembangan teknologi dan telekomunikasi makin menunjukan kecenderungan pada kegiatan serba konektivitas. Tren Internet of Things (IoT) diyakini mampu menjawab dan mempermudah segala kegiatan sehari-hari dan industri dengan otomasi jarak jauh.

Ronni Nurmal Wakil Presiden Ericsson’s Head of Network Product for Customer Unit Indonesia dan Timor Leste mengatakan pada catatan Ericsson Mobility Report kuartal I-2017, secara global, pada 2016, terdapat total connected devices sebanyak 16 milliar. Pada 2022 angka tersebut diproyeksikan akan bertambah menjadi 29 milliar.

Ronni berharap, perkembangan IoT di Indonesia bisa berlanjut tidak hanya sebagai operator, tapi juga bisa untuk keperluan sehari-hari. Ronni mencontohkan penggunaan IoT tidak hanya untuk aplikasi rumah tangga semata, namun juga dapat digunakan untuk pengendalian operasi medis, konstruksi dan transportasi jarak jauh. Namun, menurutnya, masih terlalu awal untuk memperediski industri mana yang bisa disasar IoT. "IoT sudah mulai mendunia walau di Indonesia masih dalam tingkat invensi." 

Diketahui, produsen teknologi informasi (TI) Taiwan tengah mengincar pasar Indonesia. Ini terkait mulai berkembangnya layanan smart city atau juga smart solutions. Salah satunya penerapannya yaitu e-ticketing di transportasi umum.

Menurut Tony Lin, Deputy Excecutive Director Taiwan External Trade Development Council (Taitra), bisnis Internet Of Things bakal terus berkembang hingga beberapa tahun ke depan. Malah ia memproyeksi, pertumbuhan bisnisnya bisa mencapai 13,7% per tahun, sampai tahun 2020 nanti.

Data dari International Data Corporation (IDC) menunjukkan,pada 2016, sektor yang kemungkinan akan berinvestasi besar pada IOT adalah manufaktur senilai US$ 178 miliar, lalu transportasi US$ 78 miliar, dan utilitas US$ 69 miliar.

Sedangkan untuk area Asia Pasifik (tidak termasuk Jepang) diproyeksikan akan adanya penambahan dari 3,1 miliar perangkat menjadi 8,6 miliar perangkat. Hal tersebut akan diiringi dengan pertumbuhan pasar dari US$ 250 miliar menjadi US$ 583 miliar pada periode 2015-2020. "Implikasinya apa, dari sisi komoditas, regulasi, dan masyarakat untuk antisipasi ke depan harus menyiapkan komponen, infrastruktur dan regulasinya," tandas Ronni menanggapi.



Share :
Laporkan Artikel

Komentar


Kirim Komentar