27 Oktober 2017 | Denny - Redaksi | News

Pembangunan Infrastruktur Butuh Rantai Pasok Sumber Daya Konstruksi Andal

Para Pembicara dalam Preskon PUPR - KIBIG5 2017.

Pembangunan infrastruktur menjadi prioritas Pemerintah Indonesia. Selama kurun waktu 2015-2019 target pembangunan Infrastruktur antara lain : pembangunan 1000 Km jalan tol, pembangunan jalan baru sepanjang 2.650 Km, pembangunan 65 waduk/bendungan, serta penyediaan 1 juta rumah. Dari target tersebut, selama 3 tahun masa pemerintahan telah tercapai berbagai pembangunan Infrastruktur seperti : 39 bendungan (30 baru dan 9 selesai) dimana bendungan yang telah terbangun tersebut menambah luas layanan irigasi waduk dari semula 761.542 Ha (11 %) menjadi 859.626 Ha (12,9 %), pembangunan jalan tol sepanjang 568 Km, peningkatan kapasitas Sistem Penyediaan Air Minum sebesar 20.430 liter/detik, capaian penyediaan perumahan sebanyak 2.204.939 unit, dan seterusnya.

Kemudian, untuk menyelesaikan target pembangunan Infrastruktur, Kementerian PUPR terus bekerja tiada henti. Diperkirakan sampai dengan akhir tahun 2019 akan terbangun 1.851 Km jalan tol, pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum untuk menghasilkan 70.471 liter/detik air bersih, dan lain sebagainya.

"Infrastruktur dengan skala besar seperti itu, harus didukung dengan industri konstruksi dan kesiapan rantai pasok konstruksi sumber daya konstruksi yang andal. Sumber daya konstruksi disini  meliputi usaha pemasok bahan bangunan/material, usaha pemasok peralatan konstruksi, usaha pemasok teknologi konstruksi, dan usaha pemasok tenaga kerja konstruksi," demikian disampaikan Plt. Dirjen Bina Konstruksi Kementerian PUPR Danis Sumadilaga saat menjadi narasumber pada Konferensi Pers Konstruksi Indonesia 2017, Kamis (26/10) di Jakarta.

Tidak hanya itu, dengan memastikan kehandalan sumber daya konstruksi dalam mendukung Percepatan Pembangunan Infrastruktur berarti juga mendukung daya saing Indonesia. Di kancah Internasional, daya saing Indonesia saat ini berada pada peringkat 36. Di mana salah satu faktor pengungkitnya yaitu daya saing infrastruktur saat ini berada pada urutan ke 52, setelah di tahun lalu berada di peringkat 60.

Untuk mendukung hal tersebut, Undang-Undang Jasa Konstruksi No.2 tahun 2017 secara tegas menyebutkan pada pasal 17 ayat (1) : Kegiatan usaha Jasa Konstruksi didukung dengan usaha rantai pasok sumber daya konstruksi. Dengan demikian melalui Undang-undang ini, sektor jasa konstruksi dibawa ke arah baru yaitu penguatan stakeholder Jasa Konstruksi terutama rantai pasok Industri Konstruksi dan Usaha Penyediaan Bangunan.

"Namun Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri. Untuk mampu menyediakan kebutuhan akan sumber daya konstruksi, Pemerintah bersama stakeholders konstruksi harus bahu membahu meningkatkan kemampuan dan daya saing pelaku pemasok sumber daya konstruksi untuk menyongsong era baru industri konstruksi di Indonesia," ungkap Danis.

Konstruksi Indonesia 2017, sebagai ajang berkumpulnya stakeholders konstruksi baik dari dalam maupun luar negeri dapat dimanfaatkan sebagai wadah yang tepat untuk mencari solusi sekaligus tempat berkoodinasi antara Pemerintah dan pelaku usaha dalam mendukung ketersediaan pasokan sumber daya konstruksi.
 
Selain Plt. Dirjen Bina Konstruksi, narasumber pada acara ini antara lain : Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pracetak dan Prategang Indonesia (AP3I) Wilfred A. Singkali dan Portofolio Director Managing Director Tarsus Indonesia Didit Siswodwiatmoko.

Konstruksi Indonesia 2017 digelar pada 8-10 November 2017 di Jakarta Convention Center. Ajang ini akan diikuti oleh lebih dari 300 perusahaan terbaik di sektor konstruksi infrastruktur, baik lokal maupun Internasional dengan memamerkan beragam produk peralatan serta teknologi konstruksi terbaru yang inovatif hingga jasa konstruksi. Pameran ini juga menghadirkan 34 workshop CPD (Continuous Professional Development) bersertifikat gratis yang berfokus pada berbagai topik pendidikan penting. Manajemen Proyek, Inovasi & Teknologi, dan Smart City adalah tema utama, yang akan membantu profesional industri mengembangkan keterampilan dan pengetahuan di bidang yang sangat penting bagi kesuksesan bisnis di masa depan.

Konstruksi Indonesia 2017 dan The Big 5 Construct Indonesia 2017 dirancang sebagai jembatan bagi beragam elemen di sektor konstruksi, mulai dari pihak kontraktor swasta, pemerintah, BUMN, akademisi dan masyarakat luas untuk berbisnis dan berdiskusi sekaligus mendorong perkembangan industri konstruksi yang potensial. Konstruksi Indonesia 2017 dan The Big 5 Construct Indonesia 2017 dihelat bersamaan dengan Indonesia Infrastructure Week (IIW) 2017. Hal ini menjadikan ajang tersebut sebagai salah satu pameran dan konferensi konstruksi infrastruktur terbesar di tanah air.



Share :
Laporkan Artikel

Komentar


Kirim Komentar