11 Januari 2018 | Reza - Redaksi | News

Negara Ini Berambisi Jadi Pemimpin di Bidang AI

Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang menyadari betul bahwa kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) merupakan sebuah teknologi strategis yang akan membawa banyak manfaat baik bagi kemajuan negeri tirai bambu. Karenannya sejak pertengahan 2017, Tiongkok mulai berinvestasi besar-besaran di bidang teknologi kecerdasan buatan, termasuk gabungan beragam inisiatif yang didukung swasta maupun pemerintah.

Salah satu langkah yang telah diambila adalah seperti yang dilakukan raksasa teknologi Tiongkok, Baidu dan Tencent yang telah membangun pusat riset AI di Amerika Serikat, guna menangkap segala informasi membangun berkaitan pengembangan teknologi ini dengan tujuan di hari kedepannya Tiongkok mampu menyaningi kapabilitas riset Amerika Serikat.

Langkah yang sama juga turut diambil oleh Google, untuk mengantisipasi ambisi Tiongkok. Kepala Peneliti Utama AI Google, Fei-Fei Li, para saintis Tiongkok menyumbangkan 43 persen total konten dalam Top 100 jurnal kecerdasan buatan sepanjang 2015. Sementara itu menurut prediksi mantan CEO Google, Eric Schmidt, Tiongkok akan menyusul AS dalam urusan pengembangan AI. Negeri Tirai Bambu ini telah menerbitkan strategi kecerdasan buatan dan ingin jadi pemimpin dunia di bidang AI pada 2025.

Hal tersebut sejalan dengan laporan South China Morning Post yang memberitakan Dewan Negara Tiongkok pada Juli 2017 telah menetapkan sebuah tujuan untuk memperluas AI menjadi industri senilai 150 miliar dolar AS dalam beberapa tahun ke depan dan mengubah negara menjadi pusat inovasi untuk AI pada 2030. “Pada 2020, mereka akan berhasil menyusul. Pada 2025, mereka akan lebih baik dari kita (AS). Dan pada 2030, mereka akan mendominasi industri AI,” sebutnya.



Share :
Laporkan Artikel

Komentar


Kirim Komentar