Uji Coba Pemidai Wajah di Amerika Picu Keluhan Warga

Sistem pemindai wajah Rekognition

Sistem perangkat lunak Rekognition besutan Amazon yang diuji coba di Kota Orlando, negara bagian Florida, Amerika Serikat, mendapat keluhan dari sejumlah warga. Mereka datang dari kelompok pembela hak privasi karena dikhawatirkan memiliki kerentanan penyalahgunaan sistem keamanan.

Banyak kelompok yang memprotes penggunaan alat itu merasa khawatir itu akan digunakan untuk mengincar para demonstran, imigran, dan siapapun yang hanya menjalankan kegiatannya sehari-hari. Salah satu kelompok yang memprotes program tersebut, ACLU (American Civil Liberties Union of Florida) pada Senin 25 Juni 2018 waktu setempat telah menulis surat kepada Walikota Buddy Dyer dan Pemerintah Kota Orlando.

Mereka meminta pemerintah kota untuk segera menghentikan setiap penggunaan pemindai wajah oleh lembaga dan pemerintahan kota. Menurut laporan dari Reuters, UCLA menyatakan alasan mereka menuntut penghentian itu karena "orang-orang seharusnya bisa berjalan bebas di jalanan tanpa diawasi pemerintah."

Pada hari sama, sebagaimana dilansir dari media NPR (National Public Radio) para pejabat kota Orlando dan polisi mengeluarkan pernyataan yang mengatakan ujicoba sistem keamanan yang menggunakan "Rekognition" sudah dihentikan sejak minggu lalu.

Mereka juga mengungkapkan ujicoba program itu hanya terbatas pada sebagian kecil kamera yang dipasang di kota. Selama ujicoba, mereka menguji sistem keamanannya dengan melacak anggota polisi yang yang bersedia menjadi sukarelawan.

Kepada NPR, Pejabat polisi kota Orlando menjelaskan program ujicoba itu melibatkan delapan kamera video, lima di kantor pusat polisi dan sisanya di jalanan yang dipasang. Amazon akan mendapat akses termasuk foto dan wajah dari tujuh orang polisi yang menjadi sukarelawan untuk digunakan wajahnya dalam percobaan sistem keamanan itu.

Meskipun begitu, keberadaan Rekognition tetap menuai protes. Bulan lalu, lebih dari empat puluh kelompok pembela hak sipil mengirim surat kepada Direktur Perusahaan Amazon, Jeff Bezos, bahwa teknologi dari perushaannya rentan disalahgunakan. Surat itu menggarisbawahi bahwa teknologi pelacak dan pemindai wajah itu bisa membuat kontrol pengawasan negara menjadi tinggi.

Amazon selaku perusahaan yang mengeluarkan program Rekognition mengklarifikasi keterlibatan mereka. Tepatnya ketika petinggi perusahaan mereka yang menangani unit Rekognition, Ranju Das, mendeskripsikan program keamanan Orlando dalam seminar yang diselenggarakan pada awal Mei di Korea Selatan.

Dia mengatakan, "Kota Orlando bekerja sama dengan kami. Kota ini adalah smart city: mereka punya kamera di setiap jalan." Ranju Das juga mengatakan polisi bisa melacak "orang yang mereka inginkan."

Menanggapi pernyataan Ranju Das dan dugaan kepolisian Orlando bisa menggunakan pemindai wajah secara "real-time" di ruang publik, Amazon menyebut "Itu tidak tepat jika mereka telah memasang kamera di sepanjang kotanya atau menggunakannya." Perusahaan itu juga meminta maaf atas kebingungan dan kesalahpahaman yang terjadi berkaitan dengan pengunaan sistemnya.

 

Leave a Comment


Send Comment