19 Juli 2018 | Andri - Redaksi | News

Pengembang Teknologi Berkoalisi Tolak Penggunaan AI untuk Senjata Mematikan

Para pemimpin teknologi yang berkecimpung dalam pengembangan teknologi Artificial Intelligence melakukan penandatanganan perjanjian bersama untuk tidak mengembangkan "lethal autonomous weapons" atau senjata mematikan yang menggunakan kecerdasan buatan.

Berlangsung di International Joint Conference on Artificial Intelligence (IJCAI) 2018, Stockholm, acara ini diselenggarakan oleh Future of Life Institute, sebuah lembaga penelitian yang bertujuan untuk "memitigasi risiko eksistensial" kepada umat manusia.

Dalam ikrar ini mereka menentang penyebaran teknologi tersebut dan memperingatan bahwa senjata yang menggunakan sistem AI dalam penggunaan [select] dan [engage] untuk mengarahkan senjata ke target manusia sangat tidak bermoral dan pragmatis. Secara moral, keputusan untuk mengambil kehidupan manusia tidak boleh didelegasikan ke mesin. Selain itu, mereka mengatakan bahwa penyebaran persenjataan tersebut akan menimbulkan destabilisasi dan berbahaya bagi setiap negara dan individu.

Turut serta dalam ikrar tersebut, Elon Musk CEO SpaceX and Tesla, tiga co-founders Google DeepMind, Pendiri Skype Jaan Tallinn, lalu Shane Legg, Mustafa Suleyman, dan Demis Hassabis. Serta tidak ketinggalan Stuart Russell, Yoshua Bengio, Jürgen Schmidhuber dan beberapa peneliti AI paling dihormati dan terkemuka di dunia lainnya.

Dari pertemuan ini, rencananya Future of Life Institute akan menyerukan kepada PBB untuk mempertimbangkan peraturan baru terkait pengadaan senjata otonom mematikan. Mereka yang terlibat telah berjanji secara individual untuk tidak mengembangkan teknologi tersebut.



Share :
Laporkan Artikel

Komentar


Kirim Komentar