10 Agustus 2018 | Andri - Redaksi | News

Diprotes! Amazon Malah Tunjukan Dampak Positif Rekognisi ID

Amazon's facial recognition service, Amazon Rekognition.

Teknologi pengenalan wajah, terutama Rekognisi dengan layanan analisis gambar berbasis cloud milik Amazon telah menjadi subjek peningkatan pengawasan. Bahkan beberapa kelompok pemegang saham Amazon menyatakan keberatannya atas keputusan perusahaan memberikan Rekognisi kepada penegak hukum di Orlando, florida, dan kantor Sheriff Washington County. Apalagi sejak American Civil Liberties Union (ACLU) menunjukkan kerentanan Rekognisi terhadap kesalahan yang membuat tiga anggota Kongres Demokratik khawatir teknologi ini dapat menimbulkan bahaya bagi hak-hak sipil dan privasi.

Tidak tinggal diam, pihak Amazon pun memberikan tanggapan atas protes yang menerpanya dengan menerbitkan sebuah studi kasus yang menyoroti cara-cara Rekognisi yang diluncurkan sebagai bagian dari Amazon Web Service (AWS) dua tahun lalu adalah 'sebagai kekuatan untuk kebaikan.'

Salah satu studi kasusnya, Marinus Analytics, sebuah perusahaan analitik data yang didirikan tahun 2014, menggunakan alat kecerdasan buatan termasuk Rekognisi untuk membantu menemukan korban perdagangan manusia dan menyatukan kembali korban dengan keluarganya.

Secara khusus, ia menyediakan agen dengan alat yang membantu mengidentifikasi dan menemukan korban perdagangan seks. Salah satu layanan tersebut, Traffic Jam, memiliki fitur pengenal wajah FaceSearch yang memanfaatkan Rekognisi untuk mencari jutaan rekaman dalam hitungan detik. Lalu, algoritme pengenalan karakter Rekognisi untuk mendeteksi kata dan frasa dalam gambar, mengekstraknya, dan mengonversinya menjadi teks yang dapat dibaca mesin yang diorganisasikan dan disusun dalam format yang dapat dicari.

Amazon mengatakan bahwa FaceSearch membantu detektif menemukan nomor telepon yang terdaftar sebagai nama korban perdagangan seks dalam foto dua tahun, yang mengidentifikasi 20 korban dan menjebloskan pelaku ke balik jeruji hanya dalam waktu tiga bulan. Contoh lainnya, membantu peneliti California menemukan gadis 16 tahun yang hilang yang dijual online untuk seks.

Menurut Pendiri Marinus Analytics, Emily Kennedy, tanpa Traffic Jam, para penyelidik harus menyaring ribuan iklan online secara manual. Ini berarti harus duduk di depan komputer dengan gambar korban yang ditempelkan ke layar monitor dan membandingkan setiap foto yang mereka lihat di online dengan harapan menemukan kecocokan.

"Dengan menggunakan teknologi AI, seperti Amazon Rekognisi, tugas penting ini sekarang dapat dilakukan dengan lebih akurat dalam hitungan detik. Terpenting, detektif dengan waktu terbatas dapat menemukan korban sebelum dia dipindahkan ke kota berikutnya," ujar Emily.

Kemudian ada juga organisasi nirlaba Thorn menggunakan Rekognisi dan produk AWS lainnya untuk mengidentifikasi dan menyelamatkan anak-anak yang telah mengalami pelecehan seksual. Melalui alat Spotlight-nya, Thorn menyaring ratusan ribu iklan perdagangan seks anak setiap harinya dan mengidentifikasi 5.894 korban perdagangan seks dan membantu memulihkan 103 dari mereka hingga saat ini.

Julie Cordua, CEO Thorn, mengatakan bahwa dengan algoritma machine learning telah mengurangi waktu penyelidikan hingga 65 persen."AWS telah menjadi bagian dari solusi untuk meningkatkan solusi mitranya dalam membantu menemukan anak-anak yang dieksploitasi lebih cepat dan menghentikan penyalahgunaan."

Studi kasus telah menjadi bagian dari kampanye Amazon untuk melawan kritik terhadap Rekognisi. Pada bulan Juni, Manajer Umum Amazon Web Services, Matt Wood, menuliskan bahwa Solusi analitik teks dan suara dapat memberikan keuntungan secara material. Masyarakat dapat mencegah perdagangan manusia, menghambat eksploitasi anak, menyatukan anak-anak yang hilang dengan keluarganya, dan membangun aplikasi pendidikan untuk anak-anak. Kemudian meningkatkan keamanan melalui otentikasi multi-faktor, menemukan gambar dengan lebih mudah, atau mencegah pencurian paket.

"Belum ada pelanggaran hukum yang dilaporkan terhadap Amazon Rekognition," tulisnya. "Selalu ada dan akan selalu ada risiko dengan kemampuan teknologi baru. Setiap organisasi yang memilih untuk menggunakan teknologi harus bertindak secara bertanggung jawab atau mengambil risiko hukum dan kecaman publik. AWS mengambil tanggung jawabnya dengan serius."



Share :
Laporkan Artikel

Komentar


Kirim Komentar