14 Maret 2019 | Andri - Redaksi | News

Agen Imigrasi AS Gunakan Database Plat Nomor untuk Melacak Orang

American Civil Liberties Union (ACLU) mengeluarkan sebuah dokumen yang menyatakan bahwa Immigration and Customs Enforcement (ICE) Amerika Serikat telah memanfaatkan database plat nomor kendaraan untuk melacak orang-orang yang secara ilegal berada di negara tersebut. Dalam dokumen tersebut disebutkan, lebih dari 9.000 agen imigrasi AS menggunakan database tersebut dan dengan bantuan teknologi pemindai dari kamera di lampu merah, parkiran, jalan tol dan tempat lainnya untuk melacak keberadaan orang yang dicari.

Lembaga-lembaga seperti ICE akan terus mengandalkan teknologi pengawasan, hal ini pun terlihat dari laporan pengeluaran federal untuk mendanai teknologi pengawasan perbatasan sebesar US$ 100 juta. Bahkan perusahaan seperti Amazon dan Microsoft telah menawarkan produk pengenalan wajah ke ICE.

Melalui alat pengawasannya itu membuat ICE dapat menargetkan orang-orang dalam skala besar. Hal ini pun menimbulkan kekhawatiran terkait pelanggaran privasi, di mana perangkat lunak telah menunjukkan kemampuannya untuk melacak setiap gerakan orang, dengan atau tanpa persetujuan mereka. Di China, bahkan teknologi pengawasan digunakan untuk memantau warga dan menetapkan skor kredit sosial, yang dapat menyebabkan hukuman sipil.

ICE telah menggunakan database yang berisi lebih dari 5 miliar data titik lokasi yang dikumpulkan oleh pembaca plat nomor di tempat parkir, jalanan, pintu tol dan di mobil polisi. ACLU menyebutkan, data tersebut dikumpulkan dari setiap plat nomor yang melewati pembaca plat. Ini berarti orang-orang tidak bersalah yang sedang bepergian juga dapat di lacak dan dilihat oleh ICE.  

Menurut ACLU, sekitar 1,5 miliar plat nomor diperoleh dari 80 departemen kepolisian setempat di puluhan negara. Pengawasan massal ini pun dianggapnya telah melanggar undang-undang privasi setempat. Untuk itu ACLU pun menyerukan kepada penegak hukum setempat untuk tidak lagi berbagi informasi dengan ICE. "Menyimpan banyak informasi lokasi merupakan pelanggaran privasi yang signifikan dan sama sekali tidak boleh dilakukan untuk menemukan lokasi seseorang saat ini. Dan sangat mengejutkan sekali bahwa ICE telah menambahkan database pengawasan massal ini dibantu oleh lembaga penegak hukum setempat dan perusahaan swasta dalam upaya pengawasannya " kata Vasudha Talla, staf pengacara ACLU California Utara.

Setiap bulannya 150-200 juta scan plat nomor baru ditambahkan ke dalam database. Berdasarkan dokumen yang diperoleh ACLU mencatatkan kemampuan pembaca plat otomotis yang dapat memotret ribuan plat per menit. Data tersebut diperolehnya dari Vigilant Solutions, sebuah perusahaan yang dikontrak ICE pada tahun 2018 dengan nilai US$ 6,1 juta hingga tahun 2020 kontraknya. Perusahaan itu mengatakan memiliki data plat nomor sekitar 60 persen dari populasi AS yang diperolehnya dari daerah-daerah termasuk Atlanta, Chicago, Cleveland, Los Angeles, New York, San Francisco, Austin, dan Texas.

Sementara itu, dalam pernyataannya ICE mengaku pihaknya tidak menggunakan data plat nomor untuk menemukan atau melacak individu yang tidak memiliki keterkaitan dengan kegiatan penyelidikan ataupun penegakan hukum oleh ICE.



Share :
Laporkan Artikel

Komentar


Kirim Komentar