FBI dan ICE Gunakan Data Pembuat SIM untuk Database Pengenalan Wajah

Ketatnya peraturan privasi yang berlaku di AS, membuat perusahaan-perusahaan dan berbagai kota mulai berpaling dari penggunaan pengenalan wajah. Namun, secara diam-diam agen Federal Bureau of Investigation (FBI) and Immigration and Customs Enforcement (ICE) memanfaatkan database pembuatan SIM di Department of Motor Vehicles (DMV) sebagai data pengenalan wajah.

Hal tersebut diungkap Peneliti Hukum GeorgeTown, di mana berdasarkan laporan Washington Post, menyebutkan ratusan juta foto yang tersedia di DMV dipindai tanpa sepengetahuan atau persetujuan orang yang bersangkutan. Hal ini dilakukan untuk membuat infastruktur pengawasan yang tidak resmi.

Clare Garvie dari Georgetown menyebutkan, tidak jelas siapa yang menjadi target atau berapa banyak pencarian yang telah dilakukan. Penyimpangan-penyimpangan ini menimbulkan keprihatinan serius bagi yang sadar privasi. "Ini adalah pelanggaran privasi yang gila, imigran gelap diberikan izin mengemudi untuk didorong mengirimkan informasi yang segera dapat digunakan untuk melawan mereka," ungkap Garvie.

Polisi atau lembaga penegak hukum telah lama menggunakan basis data biometrik penjahat, termasuk foto, sidik jari, dan lainnya yang diambil dari tersangka kriminal. Tetapi catatan DMV berisi foto-foto mayoritas penduduk negara bagian Amerika, yang sebagian besar tidak pernah dituduh melakukan kejahatan. Hal ini tentunya menimbulkan reaksi anggota parlemen dari Partai Demokrat dan Republik yang mengkritisi teknologi tersebut sebagai alat pengawasan yang berbahaya dan rentan kesalahan.

Menurut Government Accountability Office (GAO), FBI telah melakukan 390.000 pencarian pengenalan wajah sejak 2011, termasuk dalam database DMV. Di Utah saja, agen FBI dan ICE mencatat lebih dari 1.000 pencarian pengenalan wajah antara 2015-2017, kadang-kadang melakukan puluhan pencarian dalam sehari. Sayangnya, sebanyak 21 negara bagian mengizinkan agen-agen federal seperti FBI untuk memindai foto-foto SIM, termasuk Pennsylvania dan Texas. Meskipun ada beberapa aturan untuk membatasi penyalahgunaan sistem, seperti mengharuskan pencarian terkait dengan penyelidikan yang sedang berlangsung.

Dalam hal ini, ICE tidak ingin mengungkap bagaimana ia menggunakan pengenalan wajah. Sementara FBI, membela diri dengan mengutip pernyataan Wakil Asisten Direktur Kimberly Del Greco yang menyebutkan bahwa teknologi pengenalan wajah membantu menjaga kebebasan dan keamanan. Padahal ini belum tentu benar, bisa saja terjadi kesalahan deteksi yang dapat menyebabkan penangkapan orang yang tidak bersalah. Dan tanpa kerangka hukum jelas dan transparan untuk permintaan data, maka tidak ada cara yang kuat untuk mencegah penyalahgunaan di masa depan.

Leave a Comment


Send Comment