Ini Rekomendasi Teknologi Keamanan Menurut ATISI dan Professtama Soal Pemindahan Ibu Kota

Ilustrasi

Rencana pemindahan ibu kota NKRI ke Kalimantan oleh pemerintah sudah semakin nyata di depan mata. Pemerintah RI pun wajib mempersiapkan segala fasilitas dan infrastruktur agar roda pemerintahan berjalan aman dan tertib.

Untuk itu, Asosiasi Teknologi dan Industri Sekuriti Indonesia (ATISI) bersama PT. Professtama Teknik Cemerlang (Professtama), perusahaan solusi teknologi sekuriti terdepan di Indonesia, menyampaikan dukungan dan rekomendasi teknologi keamanan terkait dengan rencana pembangunan ibu kota baru Republik Indonesia.

"Aset dan infrastruktur strategis adalah sasaran utama penyadapan dan pencurian data, sehingga ibu kota baru tentu perlu memiliki teknologi keamanan mutakhir. Apalagi, peningkatan keamanan siber adalah salah satu dari 25 program prioritas rencana kerja pemerintah RI tahun 2020,' ujar Ketua Umum ATISI, Dr Sanny Suharli.

Lebih lanjut, Irwandi Salim, Presiden Direktur PT. Professtama Teknik Cemerlang mengungkapkan, “Professtama siap mendukung pembangunan ibu kota baru sesuai dengan kapabilitas dan keahlian kami selama lebih dari 35 tahun di industri teknologi sekuriti. Ibu kota baru nanti tentu harus dilengkapi dengan teknologi keamanan canggih dan sesuai dengan konsep yang saat ini direncanakan, yakni forest city.”

Ada empat rekomendasi teknologi keamanan bagi ibu kota baru. Pertama mengenai teknologi anti penyadapan dan pencurian data yang mutlak dimiliki. "Khususnya pertahanan terhadap celah keamanan (backdoor code). Mengingat dengan backdoor code, akses ke CCTV dapat diretas tanpa perlu mengetahui kata sandi, sehingga rentan pencurian rekam data denah ruangan maupun aktivitas di infrastruktur strategis," jelas Sanny.

Kemudian, ibu kota baru wajib memiliki sistem pertahanan keamanan siber berlapis. Menurut Director of Red Piranha, Richard Baker, pertahanan berlapis tersebut memiliki Next Generation Firewall (NGFW), penyimpanan logaritma jangka panjang, sistem intelijen pendeteksi ancaman aktif, kemampuan analisa dan visibilitas aktual, serta penanganan ancaman secara otomatis. Red Piranha memiliki solusi pertahanan siber tersebut yakni Crystal Eye, Unified Threat Management.

Selanjutnya, ibu kota baru nanti idealnya memiliki 100 CCTV per 1 kilometer persegi. Menurut Irwandi, kamera CCTV yang digunakan hendaknya memiliki teknologi derajat dengan fitur thermal dan nightvision. "Bisa juga ditambah fitur anti korosi dan anti ledakan. Hal ini agar bisa mendeteksi dengan komprehensif dalam gelap, sensitif terhadap perubahan suhu untuk pencegahan kebakaran, dan tahan bencana," ungkapnya.

Rekomendasi terakhir terkait pengadaan teknologi pengenalan wajah dan kecerdasan buatan yang bisa beroperasi secara akurat dalam mendeteksi seseorang. Scottie Kim, CEO Jisung Protech menyarankan teknologi Helios dari perusahaannya karena mampu melakukan pengenalan wajah dan mencocokkannya dengan database hanya dalam waktu 3 detik.

Leave a Comment


Send Comment